Rabbi….
Terima kasih atas pesan yang Kau kirimkan lewat hujan
dakwatuna.com -
Kenangan ini telah kurangkum dalam serintik hujan. Semua rasa terurai
dalam wangi tanah yang basah, gemercik yang turun berbisik, serta udara
yang sejuk menusuk-nusuk. Tidak ada yang kutinggalkan. Segala bentuk
emosi kuperas dan kuteguk sari-sarinya. Tidak ada pula yang kulewatkan.
Setiap persimpangan kugambarkan dan kuteliti lika-likunya yang berarti.
Aku
berjalan di bawah deraian hujan. Kubiarkan awan melepaskan panahnya ke
tubuhku. Kuterima titik demi titiknya yang membasahi diri sampai ke
dalam hati. Kuangkat wajah agar langit menoleh pada jiwaku yang galau.
Kusambut sebuah kenangan saat jiwa bersimbah duka karena luka. Kembali
kupinta pada-Nya, mohon izinkan kuobati segaris luka dengan beribu-ribu
harapan yang diturunkan hujan.
Kubawa diriku menepi. Di sebuah
halte kuhentikan suara-suara yang tadi menjerit-jerit. Hujan tak lagi
mampu menyentuhku. Kuantarkan pikiranku menuju sebuah bayangan dan suatu
waktu. Pikiranku pun melayang-layang menemui ilusi.
Di ruas jalan
tempatku berteduh kulihat dirimu berlari menyelamatkan diri dari
serangan hujan. Dari kejauhan kutatap penampakan tubuhmu yang samar.
Kupastikan penglihatanku tidak salah mengenali bentuk badanmu. Semakin
lama kuperhatikan kau berlari, semakin lantang hati menyuruhku untuk
segera pergi. Sayangnya kakiku seakan terpaku dan mataku terus saja
tertuju pada tubuhmu, hingga akhirnya kurasakan kehadiranmu tepat di
sampingku.
Kau tepuk-tepuk pakaianmu untuk mengusir air. Kau buka
jaket coklat yang kau kenakan, lalu mengibas-ngibaskannya. Mataku
berkedip dan mukaku berpaling menghindari cipratannya. Kau tersadar
telah mengganggu seseorang di sampingmu, lalu meminta maaf. Seketika
lalu-lalang orang di sekitar kita seperti terhenti. Kau melebarkan
matamu untuk memastikan bahwa seseorang yang baru saja kau ajak bicara
adalah aku. Kutundukkan wajahku dalam-dalam. Berharap tak kau temukan
sesuatu yang masih tersimpan di kalbuku. Sepertinya kau masih tak
percaya pada pertemuan ini. Kau masih saja memelototiku dan membuat
hatiku semakin ciut. Aku sama sekali tak bergeming. Ingin rasanya
kubersembunyi.
Akhirnya kau mengalihkan pandanganmu pada hujan.
Hujan yang dilepaskan awan semakin banyak. Hujan yang menderas ini
membuatku berada di antara suka dan derita. Suka karena bertemu
denganmu. Dan derita karena aku harus lebih lama menunggu hingga hujan
reda. Perlahan-lahan kukumpulkan keberanian untuk turut memandang hujan.
Dan hujan pun mengembalikan kenangan.
Aku ingin berteriak,
mencak-mencak. Aku hanya ingin mengeluarkan semua kekesalan dan
ketidakmengertianku pada sikapmu. Dan aku benar-benar melakukannya.
Kata-kataku tak karuan berhamburan tanpa penyaringan membuat hati kita
berantakan. Kuperlihatkan kekecewaanku dengan amarah. Membuatmu jengah
dan lebih marah dariku.
Kau katakan aku tidak bisa memposisikan
diriku di tempatmu. Jelas saja aku tak mampu. Aku tak habis pikir kau
mengambil keputusan ini. Bukankah pernah kau ungkapkan bahwa aku yang
paling mengerti dirimu, karena itu kau memintaku untuk tetap berada di
sisimu. Namun apa yang terjadi saat ini, sungguh sulit kuterima dengan
lapang dada.
Apapun yang kau katakan, tidak mudah untuk kucerna.
Penjelasan yang paling bisa kuterima adalah rasa kita sudah tidaklah
sama. Sayangnya kau terlalu rumit mengutarakannya, berbelit-belit.
Kau
berdalih. Kau bilang aku salah. Ya, memang selalu aku yang bersalah.
Kau sampai hati mengambil keputusan ini tentu saja karena kesalahanku.
Aku yang telah melakukan kelalaian hingga rasa itu berkurang. Kau benar
dan aku yang salah. Padahal jelas-jelas kau yang salah jika kau katakan
tidak ada yang berubah dari perasaanmu.
Kusaksikan kenangan itu
diderai rinai. Kini, kita berbasah-basahan disebabkan hujan dan
kenangan. Cukup lama kita tak bersua. Sejak saat itu, tak kudengar lagi
suaramu yang berat. Tak kulihat lagi wajahmu yang teduh.
Kau
tersenyum bijak. Hembusan napasmu mampir di telingaku. Lalu kau sapa
aku. Kau tanyakan kabarku, aktivitasku, keluargaku, dan semua tentangku
yang tak lagi kau tahu sejak saat itu. Kujawab semua pertanyaanmu apa
adanya. Kita hanya seperti teman lama yang dipertemukan hujan.
Hingga
akhirnya kau membisu sementara hujan masih saja menderu-deru. Gelegar
petir dan deru hujan membahasakan gemuruh di hati kita. Kalaulah saja
volume hujan dapat dikecilkan sebentar, maka daun yang jatuh pun akan
mendengar percakapan di antara dua hati.
Senang bisa melihatmu
lagi. Wajahmu tampak lebih cerah. Mungkinkah karena kau akan segera
menikah? Siapa sangka, akulah yang akan menerima undangan darimu lebih
dulu. Ups, apa kau akan mengundangku? Aku tahu kau yang berada di sisiku
saat ini bukanlah dirimu yang dulu. Kau jauh lebih baik dari waktu itu.
Kini, wajahmu memancarkan kematangan dan kedewasaan. Aha, mungkin itu
juga karena kau akan segera menikah. Iya kan?
Kau tahu, ada
satu pertanyaan yang mengganjal di hatiku. Waktu itu kau katakan bahwa
kau akan menerima perjodohan itu. Akan tetapi mengapa sampai sekarang
kau belum juga menikah? Apakah kau tahu kalau namamu masih singgah di
bait-bait doaku?
Sekarang, di lubuk hatimu aku
ini menempati posisi di bagian mana? Masihkah aku menjadi yang terdalam?
Ah, masih adakah aku? Sementara kini yang kutahu, kuikuti perkembangan
tulisan-tulisanmu, kau begitu mencintai-Nya. Apakah karena kau
mencintai-Nya maka kau putuskan untuk menggenapkan hidupmu?
Bagaimana
perasaanmu kalau kau tahu aku akan segera menyempurnakan separuh
agamaku? Kecewakah dirimu? Oh, duhai Allah… Aku tahu sesungguhnya ini
bukan urusanku lagi. Toh aku sudah tidak terluka. Engkaulah yang telah
menyembuhkannya. Namun, belakangan ini beberapa kali ku akses lagi
kenangan itu, semenjak seorang teman bercerita telah berjumpa denganmu
di sebuah acara kepenulisan. Akhirnya terpikir lagi olehku bagaimana
keadaanmu? Mungkinkah kau akan datang pada hari bersejarah dalam
hidupku?
Kau benar-benar telah salah menilai. Hingga detik ini
tidak ada yang berubah dari perasaanku. Waktu itu aku merasa tak mampu
melawan orang tuaku, tak tega menolak keinginan mereka.
Bagaimana kalau ternyata perasaanmu masih sama? Duh, Rabbi… Tolonglah hamba-Mu yang lemah ini….
Kudengar
kabar kau telah dilamar. Dulu, kau begitu mempermasalahkan keputusanku
untuk menikah dengan orang lain. Sekarang, bagaimana bisa kau mengambil
keputusan yang serupa?
Setelah kau meninggalkanku, aku
bekerja keras untuk menemukan cinta-Nya. Kurajut kembali hatiku yang
terbelah. Dulu, untuk yang pertama kalinya kuukir nama seseorang di
ruang hatiku yang terdalam. Dalam hal ini, aku benar-benar bersalah.
Mungkin karena belum pernah sampai sedalam ini, aku jadi merasa sangat
terluka ketika kau memilihnya dan sama sekali tak terpikir olehmu untuk
memperjuangkanku.
Sssssttt. Sudahlah. Cobalah kau dengarkan
suara hujan. Mungkin kita kan temukan sebuah pesan yang tersimpan.
Sadarilah bahwa kenangan itu telah menarik kita untuk kembali pada cinta
sebenarnya. Cinta yang abadi. Cinta-Nya.
Maka kupejamkan
kedua mataku. Pelan-pelan kutarik napasku dalam-dalam, lalu kuturunkan
secara perlahan, agar dapat kudengar suara hujan. Berulang-ulang. Hingga
suaramu berbisik lagi di dalam gerimis.
Aku pun telah melepaskanmu demi Dia Yang Maha Memiliki segalanya.
Ya.
Aku pun begitu. Aku telah mengembalikan rasa ini pada-Nya. Yang tersisa
hanya selembar kenangan yang justru menguatkanku untuk menulis di
lembaran baru. Sebuah kisah baru yang mendekatkanku pada-Nya.
Keputusanku ini semata-mata hanya untuk menemukan seseorang yang mampu
menjadi imamku, yang menjadi jalan ketaatanku pada-Nya, hanya
karena-Nya. Kubiarkan Allah yang memilihkannya untukku. Siapa pun yang
terpilih, jika Allah memang berkenan maka akan kujalani sebuah
pengabdian sebagai istri dengan senang hati.
Saat kubuka mata,
hujan telah reda. Ketenangan pun menjalari seluruh ruang hati. Dan kau
telah menghilang di dalam kerumunan ingatan. Mungkin suatu hari nanti
kau kan datang lagi. Muncul kembali ke permukaan. Namun yang kau beri
bukan lagi kegalauan di hati, akan tetapi keindahan dari sebuah memori.
Memori saat kupelajari cinta sejati.