Minggu, 02 September 2012
nasihat yang sama
hampir dua bulan ini,kalo ketemu dengan sahabat-sahabat ikhwat,ikhwan maupun akhwat,,,,nasihatnya selalu sama "NIKAH".setiap pertemuan minguan pasti selalu di bahas,ato ketemu di suatu acara pasti di bahas juga,pertanyaan yang sama "kapan nikah?" "udah ada calonnya?" pengennn,,,insyAllah pengen banget menikah dalam usia muda :) lalu,apa yang jadi kendala?alhamdulilah orang tua dan MB udah merestui,hanya ortu dan keluarga selalu nanya "calonnya udah ada?" wewww,,,,,hehe saat ini belum ada,bahkan ada sahabat akhwat yang mau nawarin sahabatnya,sebesar itu kah kepedulian mereka ke aku?hhmmm syukron,jazakallah :) aku ingin sahabatku,ingin segera menyempurnakan separuh agama ini. InsyAllah tahun depan rencanaku untuk memulai hidup berumah tangga,insyAllah jika Allah mengijinkan aku,semoga jlan menuju kesana di permudah.aamiin :)
Minggu, 01 Juli 2012
Reda
Rabbi….
Terima kasih atas pesan yang Kau kirimkan lewat hujan
dakwatuna.com - Kenangan ini telah kurangkum dalam serintik hujan. Semua rasa terurai dalam wangi tanah yang basah, gemercik yang turun berbisik, serta udara yang sejuk menusuk-nusuk. Tidak ada yang kutinggalkan. Segala bentuk emosi kuperas dan kuteguk sari-sarinya. Tidak ada pula yang kulewatkan. Setiap persimpangan kugambarkan dan kuteliti lika-likunya yang berarti.
Aku berjalan di bawah deraian hujan. Kubiarkan awan melepaskan panahnya ke tubuhku. Kuterima titik demi titiknya yang membasahi diri sampai ke dalam hati. Kuangkat wajah agar langit menoleh pada jiwaku yang galau. Kusambut sebuah kenangan saat jiwa bersimbah duka karena luka. Kembali kupinta pada-Nya, mohon izinkan kuobati segaris luka dengan beribu-ribu harapan yang diturunkan hujan.
Kubawa diriku menepi. Di sebuah halte kuhentikan suara-suara yang tadi menjerit-jerit. Hujan tak lagi mampu menyentuhku. Kuantarkan pikiranku menuju sebuah bayangan dan suatu waktu. Pikiranku pun melayang-layang menemui ilusi.
Di ruas jalan tempatku berteduh kulihat dirimu berlari menyelamatkan diri dari serangan hujan. Dari kejauhan kutatap penampakan tubuhmu yang samar. Kupastikan penglihatanku tidak salah mengenali bentuk badanmu. Semakin lama kuperhatikan kau berlari, semakin lantang hati menyuruhku untuk segera pergi. Sayangnya kakiku seakan terpaku dan mataku terus saja tertuju pada tubuhmu, hingga akhirnya kurasakan kehadiranmu tepat di sampingku.
Kau tepuk-tepuk pakaianmu untuk mengusir air. Kau buka jaket coklat yang kau kenakan, lalu mengibas-ngibaskannya. Mataku berkedip dan mukaku berpaling menghindari cipratannya. Kau tersadar telah mengganggu seseorang di sampingmu, lalu meminta maaf. Seketika lalu-lalang orang di sekitar kita seperti terhenti. Kau melebarkan matamu untuk memastikan bahwa seseorang yang baru saja kau ajak bicara adalah aku. Kutundukkan wajahku dalam-dalam. Berharap tak kau temukan sesuatu yang masih tersimpan di kalbuku. Sepertinya kau masih tak percaya pada pertemuan ini. Kau masih saja memelototiku dan membuat hatiku semakin ciut. Aku sama sekali tak bergeming. Ingin rasanya kubersembunyi.
Akhirnya kau mengalihkan pandanganmu pada hujan. Hujan yang dilepaskan awan semakin banyak. Hujan yang menderas ini membuatku berada di antara suka dan derita. Suka karena bertemu denganmu. Dan derita karena aku harus lebih lama menunggu hingga hujan reda. Perlahan-lahan kukumpulkan keberanian untuk turut memandang hujan. Dan hujan pun mengembalikan kenangan.
Aku ingin berteriak, mencak-mencak. Aku hanya ingin mengeluarkan semua kekesalan dan ketidakmengertianku pada sikapmu. Dan aku benar-benar melakukannya. Kata-kataku tak karuan berhamburan tanpa penyaringan membuat hati kita berantakan. Kuperlihatkan kekecewaanku dengan amarah. Membuatmu jengah dan lebih marah dariku.
Kau katakan aku tidak bisa memposisikan diriku di tempatmu. Jelas saja aku tak mampu. Aku tak habis pikir kau mengambil keputusan ini. Bukankah pernah kau ungkapkan bahwa aku yang paling mengerti dirimu, karena itu kau memintaku untuk tetap berada di sisimu. Namun apa yang terjadi saat ini, sungguh sulit kuterima dengan lapang dada.
Apapun yang kau katakan, tidak mudah untuk kucerna. Penjelasan yang paling bisa kuterima adalah rasa kita sudah tidaklah sama. Sayangnya kau terlalu rumit mengutarakannya, berbelit-belit.
Kau berdalih. Kau bilang aku salah. Ya, memang selalu aku yang bersalah. Kau sampai hati mengambil keputusan ini tentu saja karena kesalahanku. Aku yang telah melakukan kelalaian hingga rasa itu berkurang. Kau benar dan aku yang salah. Padahal jelas-jelas kau yang salah jika kau katakan tidak ada yang berubah dari perasaanmu.
Kusaksikan kenangan itu diderai rinai. Kini, kita berbasah-basahan disebabkan hujan dan kenangan. Cukup lama kita tak bersua. Sejak saat itu, tak kudengar lagi suaramu yang berat. Tak kulihat lagi wajahmu yang teduh.
Kau tersenyum bijak. Hembusan napasmu mampir di telingaku. Lalu kau sapa aku. Kau tanyakan kabarku, aktivitasku, keluargaku, dan semua tentangku yang tak lagi kau tahu sejak saat itu. Kujawab semua pertanyaanmu apa adanya. Kita hanya seperti teman lama yang dipertemukan hujan.
Hingga akhirnya kau membisu sementara hujan masih saja menderu-deru. Gelegar petir dan deru hujan membahasakan gemuruh di hati kita. Kalaulah saja volume hujan dapat dikecilkan sebentar, maka daun yang jatuh pun akan mendengar percakapan di antara dua hati.
Senang bisa melihatmu lagi. Wajahmu tampak lebih cerah. Mungkinkah karena kau akan segera menikah? Siapa sangka, akulah yang akan menerima undangan darimu lebih dulu. Ups, apa kau akan mengundangku? Aku tahu kau yang berada di sisiku saat ini bukanlah dirimu yang dulu. Kau jauh lebih baik dari waktu itu. Kini, wajahmu memancarkan kematangan dan kedewasaan. Aha, mungkin itu juga karena kau akan segera menikah. Iya kan?
Kau tahu, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatiku. Waktu itu kau katakan bahwa kau akan menerima perjodohan itu. Akan tetapi mengapa sampai sekarang kau belum juga menikah? Apakah kau tahu kalau namamu masih singgah di bait-bait doaku?
Sekarang, di lubuk hatimu aku ini menempati posisi di bagian mana? Masihkah aku menjadi yang terdalam? Ah, masih adakah aku? Sementara kini yang kutahu, kuikuti perkembangan tulisan-tulisanmu, kau begitu mencintai-Nya. Apakah karena kau mencintai-Nya maka kau putuskan untuk menggenapkan hidupmu?
Bagaimana perasaanmu kalau kau tahu aku akan segera menyempurnakan separuh agamaku? Kecewakah dirimu? Oh, duhai Allah… Aku tahu sesungguhnya ini bukan urusanku lagi. Toh aku sudah tidak terluka. Engkaulah yang telah menyembuhkannya. Namun, belakangan ini beberapa kali ku akses lagi kenangan itu, semenjak seorang teman bercerita telah berjumpa denganmu di sebuah acara kepenulisan. Akhirnya terpikir lagi olehku bagaimana keadaanmu? Mungkinkah kau akan datang pada hari bersejarah dalam hidupku?
Kau benar-benar telah salah menilai. Hingga detik ini tidak ada yang berubah dari perasaanku. Waktu itu aku merasa tak mampu melawan orang tuaku, tak tega menolak keinginan mereka.
Bagaimana kalau ternyata perasaanmu masih sama? Duh, Rabbi… Tolonglah hamba-Mu yang lemah ini….
Kudengar kabar kau telah dilamar. Dulu, kau begitu mempermasalahkan keputusanku untuk menikah dengan orang lain. Sekarang, bagaimana bisa kau mengambil keputusan yang serupa?
Setelah kau meninggalkanku, aku bekerja keras untuk menemukan cinta-Nya. Kurajut kembali hatiku yang terbelah. Dulu, untuk yang pertama kalinya kuukir nama seseorang di ruang hatiku yang terdalam. Dalam hal ini, aku benar-benar bersalah. Mungkin karena belum pernah sampai sedalam ini, aku jadi merasa sangat terluka ketika kau memilihnya dan sama sekali tak terpikir olehmu untuk memperjuangkanku.
Sssssttt. Sudahlah. Cobalah kau dengarkan suara hujan. Mungkin kita kan temukan sebuah pesan yang tersimpan. Sadarilah bahwa kenangan itu telah menarik kita untuk kembali pada cinta sebenarnya. Cinta yang abadi. Cinta-Nya.
Maka kupejamkan kedua mataku. Pelan-pelan kutarik napasku dalam-dalam, lalu kuturunkan secara perlahan, agar dapat kudengar suara hujan. Berulang-ulang. Hingga suaramu berbisik lagi di dalam gerimis.
Aku pun telah melepaskanmu demi Dia Yang Maha Memiliki segalanya.
Ya. Aku pun begitu. Aku telah mengembalikan rasa ini pada-Nya. Yang tersisa hanya selembar kenangan yang justru menguatkanku untuk menulis di lembaran baru. Sebuah kisah baru yang mendekatkanku pada-Nya. Keputusanku ini semata-mata hanya untuk menemukan seseorang yang mampu menjadi imamku, yang menjadi jalan ketaatanku pada-Nya, hanya karena-Nya. Kubiarkan Allah yang memilihkannya untukku. Siapa pun yang terpilih, jika Allah memang berkenan maka akan kujalani sebuah pengabdian sebagai istri dengan senang hati.
Saat kubuka mata, hujan telah reda. Ketenangan pun menjalari seluruh ruang hati. Dan kau telah menghilang di dalam kerumunan ingatan. Mungkin suatu hari nanti kau kan datang lagi. Muncul kembali ke permukaan. Namun yang kau beri bukan lagi kegalauan di hati, akan tetapi keindahan dari sebuah memori. Memori saat kupelajari cinta sejati.
Terima kasih atas pesan yang Kau kirimkan lewat hujan
dakwatuna.com - Kenangan ini telah kurangkum dalam serintik hujan. Semua rasa terurai dalam wangi tanah yang basah, gemercik yang turun berbisik, serta udara yang sejuk menusuk-nusuk. Tidak ada yang kutinggalkan. Segala bentuk emosi kuperas dan kuteguk sari-sarinya. Tidak ada pula yang kulewatkan. Setiap persimpangan kugambarkan dan kuteliti lika-likunya yang berarti.
Aku berjalan di bawah deraian hujan. Kubiarkan awan melepaskan panahnya ke tubuhku. Kuterima titik demi titiknya yang membasahi diri sampai ke dalam hati. Kuangkat wajah agar langit menoleh pada jiwaku yang galau. Kusambut sebuah kenangan saat jiwa bersimbah duka karena luka. Kembali kupinta pada-Nya, mohon izinkan kuobati segaris luka dengan beribu-ribu harapan yang diturunkan hujan.
Kubawa diriku menepi. Di sebuah halte kuhentikan suara-suara yang tadi menjerit-jerit. Hujan tak lagi mampu menyentuhku. Kuantarkan pikiranku menuju sebuah bayangan dan suatu waktu. Pikiranku pun melayang-layang menemui ilusi.
Di ruas jalan tempatku berteduh kulihat dirimu berlari menyelamatkan diri dari serangan hujan. Dari kejauhan kutatap penampakan tubuhmu yang samar. Kupastikan penglihatanku tidak salah mengenali bentuk badanmu. Semakin lama kuperhatikan kau berlari, semakin lantang hati menyuruhku untuk segera pergi. Sayangnya kakiku seakan terpaku dan mataku terus saja tertuju pada tubuhmu, hingga akhirnya kurasakan kehadiranmu tepat di sampingku.
Kau tepuk-tepuk pakaianmu untuk mengusir air. Kau buka jaket coklat yang kau kenakan, lalu mengibas-ngibaskannya. Mataku berkedip dan mukaku berpaling menghindari cipratannya. Kau tersadar telah mengganggu seseorang di sampingmu, lalu meminta maaf. Seketika lalu-lalang orang di sekitar kita seperti terhenti. Kau melebarkan matamu untuk memastikan bahwa seseorang yang baru saja kau ajak bicara adalah aku. Kutundukkan wajahku dalam-dalam. Berharap tak kau temukan sesuatu yang masih tersimpan di kalbuku. Sepertinya kau masih tak percaya pada pertemuan ini. Kau masih saja memelototiku dan membuat hatiku semakin ciut. Aku sama sekali tak bergeming. Ingin rasanya kubersembunyi.
Akhirnya kau mengalihkan pandanganmu pada hujan. Hujan yang dilepaskan awan semakin banyak. Hujan yang menderas ini membuatku berada di antara suka dan derita. Suka karena bertemu denganmu. Dan derita karena aku harus lebih lama menunggu hingga hujan reda. Perlahan-lahan kukumpulkan keberanian untuk turut memandang hujan. Dan hujan pun mengembalikan kenangan.
Aku ingin berteriak, mencak-mencak. Aku hanya ingin mengeluarkan semua kekesalan dan ketidakmengertianku pada sikapmu. Dan aku benar-benar melakukannya. Kata-kataku tak karuan berhamburan tanpa penyaringan membuat hati kita berantakan. Kuperlihatkan kekecewaanku dengan amarah. Membuatmu jengah dan lebih marah dariku.
Kau katakan aku tidak bisa memposisikan diriku di tempatmu. Jelas saja aku tak mampu. Aku tak habis pikir kau mengambil keputusan ini. Bukankah pernah kau ungkapkan bahwa aku yang paling mengerti dirimu, karena itu kau memintaku untuk tetap berada di sisimu. Namun apa yang terjadi saat ini, sungguh sulit kuterima dengan lapang dada.
Apapun yang kau katakan, tidak mudah untuk kucerna. Penjelasan yang paling bisa kuterima adalah rasa kita sudah tidaklah sama. Sayangnya kau terlalu rumit mengutarakannya, berbelit-belit.
Kau berdalih. Kau bilang aku salah. Ya, memang selalu aku yang bersalah. Kau sampai hati mengambil keputusan ini tentu saja karena kesalahanku. Aku yang telah melakukan kelalaian hingga rasa itu berkurang. Kau benar dan aku yang salah. Padahal jelas-jelas kau yang salah jika kau katakan tidak ada yang berubah dari perasaanmu.
Kusaksikan kenangan itu diderai rinai. Kini, kita berbasah-basahan disebabkan hujan dan kenangan. Cukup lama kita tak bersua. Sejak saat itu, tak kudengar lagi suaramu yang berat. Tak kulihat lagi wajahmu yang teduh.
Kau tersenyum bijak. Hembusan napasmu mampir di telingaku. Lalu kau sapa aku. Kau tanyakan kabarku, aktivitasku, keluargaku, dan semua tentangku yang tak lagi kau tahu sejak saat itu. Kujawab semua pertanyaanmu apa adanya. Kita hanya seperti teman lama yang dipertemukan hujan.
Hingga akhirnya kau membisu sementara hujan masih saja menderu-deru. Gelegar petir dan deru hujan membahasakan gemuruh di hati kita. Kalaulah saja volume hujan dapat dikecilkan sebentar, maka daun yang jatuh pun akan mendengar percakapan di antara dua hati.
Senang bisa melihatmu lagi. Wajahmu tampak lebih cerah. Mungkinkah karena kau akan segera menikah? Siapa sangka, akulah yang akan menerima undangan darimu lebih dulu. Ups, apa kau akan mengundangku? Aku tahu kau yang berada di sisiku saat ini bukanlah dirimu yang dulu. Kau jauh lebih baik dari waktu itu. Kini, wajahmu memancarkan kematangan dan kedewasaan. Aha, mungkin itu juga karena kau akan segera menikah. Iya kan?
Kau tahu, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatiku. Waktu itu kau katakan bahwa kau akan menerima perjodohan itu. Akan tetapi mengapa sampai sekarang kau belum juga menikah? Apakah kau tahu kalau namamu masih singgah di bait-bait doaku?
Sekarang, di lubuk hatimu aku ini menempati posisi di bagian mana? Masihkah aku menjadi yang terdalam? Ah, masih adakah aku? Sementara kini yang kutahu, kuikuti perkembangan tulisan-tulisanmu, kau begitu mencintai-Nya. Apakah karena kau mencintai-Nya maka kau putuskan untuk menggenapkan hidupmu?
Bagaimana perasaanmu kalau kau tahu aku akan segera menyempurnakan separuh agamaku? Kecewakah dirimu? Oh, duhai Allah… Aku tahu sesungguhnya ini bukan urusanku lagi. Toh aku sudah tidak terluka. Engkaulah yang telah menyembuhkannya. Namun, belakangan ini beberapa kali ku akses lagi kenangan itu, semenjak seorang teman bercerita telah berjumpa denganmu di sebuah acara kepenulisan. Akhirnya terpikir lagi olehku bagaimana keadaanmu? Mungkinkah kau akan datang pada hari bersejarah dalam hidupku?
Kau benar-benar telah salah menilai. Hingga detik ini tidak ada yang berubah dari perasaanku. Waktu itu aku merasa tak mampu melawan orang tuaku, tak tega menolak keinginan mereka.
Bagaimana kalau ternyata perasaanmu masih sama? Duh, Rabbi… Tolonglah hamba-Mu yang lemah ini….
Kudengar kabar kau telah dilamar. Dulu, kau begitu mempermasalahkan keputusanku untuk menikah dengan orang lain. Sekarang, bagaimana bisa kau mengambil keputusan yang serupa?
Setelah kau meninggalkanku, aku bekerja keras untuk menemukan cinta-Nya. Kurajut kembali hatiku yang terbelah. Dulu, untuk yang pertama kalinya kuukir nama seseorang di ruang hatiku yang terdalam. Dalam hal ini, aku benar-benar bersalah. Mungkin karena belum pernah sampai sedalam ini, aku jadi merasa sangat terluka ketika kau memilihnya dan sama sekali tak terpikir olehmu untuk memperjuangkanku.
Sssssttt. Sudahlah. Cobalah kau dengarkan suara hujan. Mungkin kita kan temukan sebuah pesan yang tersimpan. Sadarilah bahwa kenangan itu telah menarik kita untuk kembali pada cinta sebenarnya. Cinta yang abadi. Cinta-Nya.
Maka kupejamkan kedua mataku. Pelan-pelan kutarik napasku dalam-dalam, lalu kuturunkan secara perlahan, agar dapat kudengar suara hujan. Berulang-ulang. Hingga suaramu berbisik lagi di dalam gerimis.
Aku pun telah melepaskanmu demi Dia Yang Maha Memiliki segalanya.
Ya. Aku pun begitu. Aku telah mengembalikan rasa ini pada-Nya. Yang tersisa hanya selembar kenangan yang justru menguatkanku untuk menulis di lembaran baru. Sebuah kisah baru yang mendekatkanku pada-Nya. Keputusanku ini semata-mata hanya untuk menemukan seseorang yang mampu menjadi imamku, yang menjadi jalan ketaatanku pada-Nya, hanya karena-Nya. Kubiarkan Allah yang memilihkannya untukku. Siapa pun yang terpilih, jika Allah memang berkenan maka akan kujalani sebuah pengabdian sebagai istri dengan senang hati.
Saat kubuka mata, hujan telah reda. Ketenangan pun menjalari seluruh ruang hati. Dan kau telah menghilang di dalam kerumunan ingatan. Mungkin suatu hari nanti kau kan datang lagi. Muncul kembali ke permukaan. Namun yang kau beri bukan lagi kegalauan di hati, akan tetapi keindahan dari sebuah memori. Memori saat kupelajari cinta sejati.
Selasa, 12 Juni 2012
Kawan, Kau Hebat
Kawan, kau pernah terjatuh
Aku juga pernah
Kau pernah menangisi khilaf
Aku juga sama
Aku juga pernah
Kau pernah menangisi khilaf
Aku juga sama
Bukan siapa mendahului siapa
Tapi hidayah datang tiba-tiba
Dengan hati lapang menyambutnya
Tapi hidayah datang tiba-tiba
Dengan hati lapang menyambutnya
Kawan, kau hebat
Kau jatuh, tergugu
Dan bangkit tanpa mengaduh
Kau jatuh, tergugu
Dan bangkit tanpa mengaduh
Kawan, kau buka hati lebar-lebar
Kau buka jiwa hingga mekar
Semangat dan tekad
Kau camkan hingga membakar
Kau buka jiwa hingga mekar
Semangat dan tekad
Kau camkan hingga membakar
Kawan, kau hebat
Kau lemah bukan penghambat
Memang Tuhanlah Yang Maha Kuat
Kau lemah bukan penghambat
Memang Tuhanlah Yang Maha Kuat
Dan kini kau sedang meniti cintaNya
Dengan pijak tegap menyergap
Serta doa yang selalu kau dekap
Dengan pijak tegap menyergap
Serta doa yang selalu kau dekap
Kau pernah tersakiti hambaNya
Kelak kau mendapat cintaNya
Dalam batasmu dalam inginmu
Biar duka cita kau reguk dalam-dalam
Kelak kau mendapat cintaNya
Dalam batasmu dalam inginmu
Biar duka cita kau reguk dalam-dalam
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/05/20720/kawan-kau-hebat/#ixzz1xiCx21hV
Temukan Aku Dalam Istikharahmu
Jodohku
Sabar dan tenanglah
Aku di sini masih bersabar menantimu
Hatimu tak sedang terluka kan?
Tersenyumlah
Karena aku yakin kebahagiaan akan slalu menyertai kita
Jikalau detik ini hatimu sedang terluka, basuhlah wajahmu dengan air
Dan mendekatlah kepada-Nya,
Tapi di sini aku berharap kau baik-baik saja
Waktu terasa lama buatku,
Tapi aku yakin takkan lama lagi kau akan hadir menyapaku
Mengajakku untuk melakukan shalat fardhu
Sering pula kau akan menanyakan
Sudah shalatkah kau?
Jodohku
Aku rindu
Kapan kita bertemu?
Begitu banyak hal yang ingin ku ceritakan kepadamu
Begitu banyak pula harapanku untuk menantikan nasihat-nasihatmu
Hati ini kosong dan tak sabar menanti kehadiranmu
Semoga engkau kan membalut & menyembuhkan luka di hatiku
Temukan aku dalam istikharahmu
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/05/20756/temukan-aku-dalam-istikharahmu/#ixzz1xiCb5D7Q
The Meaning of True Love
Tiada hari tanpa ngobrolin cinta…
Meski tidak semua orang mengetahui apa makna cinta yang sesungguhnya namun mereka seakan tak pernah lelah dan bosan untuk membicarakan cinta ataupun sesuatu yang berkaitan dengan cinta. Makna cinta pun terus digali dari zaman ke zaman seakan tak ada habisnya. Sebenarnya apa itu “Cinta Sejati” dan bagaimana pandangan Islam terhadapnya?
Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Masyarakat di belahan bumi manapun saat ini sedang diusik oleh mitos ‘Cinta Sejati’, dan dibuai oleh impian ‘Cinta Suci’. Karenanya, ramai-ramai, mereka mempersiapkan diri untuk merayakan hari cinta “Valentine’s Day”.
Pada kesempatan ini, saya tidak ingin mengajak saudara menelusuri sejarah dan kronologi adanya peringatan ini. Dan tidak juga ingin membicarakan hukum mengikuti perayaan hari ini. Karena saya yakin, Anda telah banyak mendengar dan membaca tentang itu semua. Hanya saja, saya ingin mengajak saudara untuk sedikit menyelami: apa itu cinta? Adakah cinta sejati dan cinta suci? Dan cinta model apa yang selama ini menghiasi hati Anda?
Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Menurutnya: Sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis. Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi.
Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang.
Wah, gimana tuh nasib cinta yang selama ini Anda dambakan dari pasangan Anda? Dan bagaimana nasib cinta Anda kepada pasangan Anda? Jangan-jangan sudah lenyap dan terkubur jauh-jauh hari.
Anda ingin sengsara karena tidak lagi merasakan indahnya cinta pasangan Anda dan tidak lagi menikmati lembutnya buaian cinta kepadanya? Ataukah Anda ingin tetap merasakan betapa indahnya cinta pasangan Anda dan juga betapa bahagianya mencintai pasangan Anda?
Saudaraku, bila Anda mencintai pasangan Anda karena kecantikan atau ketampanannya, maka saat ini saya yakin anggapan bahwa ia adalah orang tercantik dan tertampan, telah luntur.
Bila dahulu rasa cinta Anda kepadanya tumbuh karena ia adalah orang yang kaya, maka saya yakin saat ini, kekayaannya tidak lagi spektakuler di mata Anda.
Bila rasa cinta Anda bersemi karena ia adalah orang yang berkedudukan tinggi dan terpandang di masyarakat, maka saat ini kedudukan itu tidak lagi berkilau secerah yang dahulu menyilaukan pandangan Anda.
Saudaraku! Bila Anda terlanjur terbelenggu cinta kepada seseorang, padahal ia bukan suami atau istri Anda, ada baiknya bila Anda menguji kadar cinta Anda. Kenalilah sejauh mana kesucian dan ketulusan cinta Anda kepadanya. Coba Anda duduk sejenak, membayangkan kekasih Anda dalam keadaan ompong peyot, pakaiannya compang-camping sedang duduk di rumah gubuk yang reot. Akankah rasa cinta Anda masih menggemuruh sedahsyat yang Anda rasakan saat ini?
Para ulama’ sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu ‘anhu mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu ‘anhu sering kali merangkaikan bait-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:
Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah
Duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?
Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita
Paras wajahnya selalu membayangi mataku dan menghuni batinku.
Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,
Semoga bersama kafilah haji, ia datang dan aku pun bertemu.
Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khathab radhiallahu ‘anhu merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu. Dan subhanallah, takdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahman pun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, maka Laila yang telah menjadi tawanan perang pun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu.
Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu ‘anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada ‘Aisyah istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya.
Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”
Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya “memble” (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang ia pun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Laila pun mengadukan sikap suaminya ini kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Mendapat pengaduan Laila ini, maka ‘Aisyah pun segera menegur saudaranya dengan berkata:
يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى وأفرطت، وأبغضتها فأفرطت، فإما أن تنصفها، وإما أن تجهزها إلى أهلها، فجهزها إلى أهلها.
“Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahman pun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu ‘Asakir 35/34 & Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)
Bagaimana saudaraku! Anda ingin merasakan betapa pahitnya nasib yang dialami oleh Laila bintu Al Judi? Ataukah Anda mengimpikan nasib serupa dengan yang dialami oleh Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu?
Tidak heran bila nenek moyang Anda telah mewanti-wanti Anda agar senantiasa waspada dari kenyataan ini. Mereka mengungkapkan fakta ini dalam ungkapan yang cukup unik: Rumput tetangga terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri.
Anda penasaran ingin tahu, mengapa kenyataan ini bisa terjadi?
Temukan rahasianya pada sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ. رواه الترمذي وغيره
“Wanita itu adalah aurat (harus ditutupi), bila ia keluar dari rumahnya, maka setan akan mengesankannya begitu cantik (di mata lelaki yang bukan mahramnya).” (Riwayat At Tirmidzi dan lainnya)
Orang-orang Arab mengungkapkan fenomena ini dengan berkata:
كُلُّ مَمْنُوعٍ مَرْغُوبٌ
Setiap yang terlarang itu menarik (memikat).
Dahulu, tatkala hubungan antara Anda dengannya terlarang dalam agama, maka setan berusaha sekuat tenaga untuk mengaburkan pandangan dan akal sehat Anda, sehingga Anda hanyut oleh badai asmara. Karena Anda hanyut dalam badai asmara haram, maka mata Anda menjadi buta dan telinga Anda menjadi tuli, sehingga Anda pun bersemboyan: Cinta itu buta. Dalam pepatah Arab dinyatakan:
حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ
Cintamu kepada sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli.
Akan tetapi setelah hubungan antara Anda berdua telah halal, maka spontan setan menyibak tabirnya, dan berbalik arah. Setan tidak lagi membentangkan tabir di mata Anda, setan malah berusaha membendung badai asmara yang telah menggelora dalam jiwa Anda. Saat itulah, Anda mulai menemukan jati diri pasangan Anda seperti apa adanya. Saat itu Anda mulai menyadari bahwa hubungan dengan pasangan Anda tidak hanya sebatas urusan paras wajah, kedudukan sosial, harta benda. Anda mulai menyadari bahwa hubungan suami-istri ternyata lebih luas dari sekedar paras wajah atau kedudukan dan harta kekayaan. Terlebih lagi, setan telah berbalik arah, dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara Anda berdua dengan perceraian:
فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ. البقرة 102
“Maka mereka mempelajari dari Harut dan Marut (nama dua setan) itu apa yang dengannya mereka dapat menceraikan (memisahkan) antara seorang (suami) dari istrinya.” (Qs. Al Baqarah: 102)
Mungkin Anda bertanya, lalu bagaimana saya harus bersikap?
Bersikaplah sewajarnya dan senantiasa gunakan nalar sehat dan hati nurani Anda. Dengan demikian, tabir asmara tidak menjadikan pandangan Anda kabur dan Anda tidak mudah hanyut oleh bualan dusta dan janji-janji palsu.
Mungkin Anda kembali bertanya: Bila demikian adanya, siapakah yang sebenarnya layak untuk mendapatkan cinta suci saya? Kepada siapakah saya harus menambatkan tali cinta saya?
Simaklah jawabannya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ. متفق عليه
“Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dan pada hadits lain beliau bersabda:
إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ. رواه الترمذي وغيره.
“Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.” (Riwayat At Tirmidzi dan lainnya)
Cinta yang tumbuh karena iman, amal shalih, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput.
الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ. الزخرف 67
“Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67)
Saudaraku! Cintailah kekasihmu karena iman, amal shalih serta akhlaqnya, agar cintamu abadi. Tidakkah Anda mendambakan cinta yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun Anda telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari kiamat? Tidakkah Anda mengharapkan agar kekasihmu senantiasa setia dan mencintaimu walaupun engkau telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat?
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ. متفق عليه
“Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (Muttafaqun ‘alaih)
Saudaraku! Hanya cinta yang bersemi karena iman dan akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati. Cinta ini akan abadi, tak lekang diterpa angin atau sinar matahari, dan tidak pula luntur karena guyuran air hujan.
Yahya bin Mu’az berkata: “Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu.” Yang demikian itu karena cinta Anda tumbuh bersemi karena adanya iman, amal shalih dan akhlaq mulia, sehingga bila iman orang yang Anda cintai tidak bertambah, maka cinta Anda pun tidak akan bertambah. Dan sebaliknya, bila iman orang yang Anda cintai berkurang, maka cinta Anda pun turut berkurang. Anda cinta kepadanya bukan karena materi, pangkat kedudukan atau wajah yang rupawan, akan tetapi karena ia beriman dan berakhlaq mulia. Inilah cinta suci yang abadi saudaraku.
Saudaraku! Setelah Anda membaca tulisan sederhana ini, perkenankan saya bertanya: Benarkah cinta Anda suci? Benarkah cinta Anda adalah cinta sejati? Buktikan saudaraku…
Wallahu a’alam bisshowab, mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/18564/the-meaning-of-true-love/#ixzz1xi4oHMKV
As’aluka Billaah… Will You Marry Me?
Tahukah Anda, mana laki-laki yang benar-benar mencintai karena Allah dan hanya iseng semata. Coba cermati dari beberapa sudut deh… pernahkah mereka meremehkan Anda (berkata yang tidak senonoh)? Pernahkah mereka menertawakan candaan yang membahas tentang pelecehan wanita? Pernahkah mereka memaksa melakukan hal yang memang belum pantas untuk dilakukan? Dengan alasan ‘aku sayang kamu’.
Yuukk… kita cermati bareng-bareng apa bener nih orang (laki-laki) serius sama kita or just kidding, just happy, just hujan heee…
Nyatanya di lapangan (dunia nyata maksudnya) banyak laki-laki yang bilang sayang dan sudah mendapatkan sesuatu dari kita, pada akhirnya bilang ‘kayanya kita udah gak cocok’ beeeeewwwwhhhh gubrrraaakkkk deh kita, kemakan cocok terus gak cocok. Na’uuzhubillah.
Koreksi lagi yuukk… apa kita yang salah? Atau mereka yang salah? Hmmmm…. gak usah cari yang salah deh yang penting kamu inget, kamu tuh lagi di incer (awasi) sama Tuhan. Coba kalau kita pake konsep ihsan bila mau melakukan apapun, masih inget konsepnya? Mari kita mengingat bersama-sama, IHSAN:” Mengabdilah kamu kepada Allah seakan-akan kamu melihat Dia. Jika kamu tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu” nah ingatannya dah kembali pulihkan? Kalau nanti di antara kita ada yang lupa, yuk kita ingetin sama-sama, hitung-hitung berdakwah kecil-kecilan.
Nah bagaimana ya kalau ada yang ngajak nikah tapi tuh orang (laki-laki) sambil cengengesan (senyum-senyum malu) gimana ya?
Coba kita pereteli dulu deh. Pernahkah dia menyentuh kita? Pernahkah dia mengajak berbuat maksiat? Pernahkah dia mencoba merayumu? Pernahkah? Pernahkah? (tanya sendiri)
Laki-laki kaya gini masih diragukan ya?
Atau pernahkah ada yang meminang Anda dengan kalimat ‘as-aluka billaah… will you marry me?’ (aku meminta/bertanya kepadamu dengan nama Allah, maukah kau menikah denganku?) Wuiiiihhh pake nama Allah… apa masih harus diragukan?
Kehati-hatian itu perlu karena menikah adalah hal yang bukan main-main, ini adalah sunnah NabiyaAllah dan bisa menjadi wajib bagi kita (coba liat hukum menikah). Untuk yang bilang mengikut sertakan kalimat Allah, sebaiknya ditelaah kembali. Syar’ikah dia mengkhitbah kita? Meminta kita langsung kepada kita atau langsung menemui keluarga kita? Selalu ghadul bashar (menjaga pandangan) atau tidak ketika melihat kita?
Wah pokoknya banyak deh yang harus diperinci… tapi ingatlah keputusan yang terbaik harus tetap diserahkan kepada Allah dengan jalan shalat istikharah (shalat meminta petunjuk). Keep mendakwahi diri. ^_^
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/06/20924/asaluka-billaah-will-you-marry-me/#ixzz1xi49gk4W
Dan getar itupun pergi
Cukup bergelombang, dan atmosfernya pun terasa kencang mengibaskan tepian kain bajuku. Terik di musim panas mengingatkan sebuah pantai di selatan Banten sana, di tanah airku Indonesia. Setelah hampir dua bulan aku berusaha mempelajari tata bahasa, sebagaimana tujuan beasiswa dari pemerintah Turki yang membawaku kemari, summer course, kursus bahasa Turki musim panas, di minggu terakhir ku menghirup oksigen di negeri yang menyimpan sejarah panjang hubungan barat dan timur ini, barulah punya kesempatan untuk mengunjungi tempat ini.
Tak sedang berada di area Eiffel di atas seine atau di tepian Tiber yang melintasi roma, hanya di atas kapal yang berlayar di sebuah selat, di bawah langit bhosforus. Tempat yang mengalihkan semua pilihanku dulu.
****
Han aku tahu kau sudah kembali ke negeri hijau kita, memberikan baktimu. Dan aku berkesempatan mengunjungi selat yang dulu kau kagumi ini, dan juga olehku. suasananya seperti yang kamu lukiskan dulu, gelombangnya yang kau bilang seperti ombak pantai selatan, udaranya yang kencang, tak ada yang berubah mungkin dengan beberapa tahun lalu saat engkau berdiri ditempat ini, dan sungguh getar ini pun tak pernah berubah, tetap hidup meski dalam diam.
Kehadiranmu dulu terlalu dini pada pagiku yang masih buta, hingga tak kupahami bahwa diri ini telah menggoyahkan altar pengabdianmu padaNya, pada Kekasih yang tak semestinya kau duakan denganku. Kemarin baru aku maknai bahwa itu adalah kelemahanmu, yang kubuat semakin rapuh dengan kelembutanku. Maafkan aku Han, telah memberikan celah untukmu terjerat lebih dalam, telah menyambutmu dengan kesejukan semu yang kau temukan di bawah rimbun kelopakku, hingga hadirku seakan oase di tengah terik saharamu.
Han saat ini wanita yang mengganggu shalat malammu itu telah berubah, meninggalkan sejarahnya yang sedikit berkabut, membersihkan dinding jiwanya yang berdebu. Tapi ada satu hal yang belum mampu untuk di hapuskan dari riwayat panjang masa lalunya. Dirimu Han, alur yang pernah berlatar di negeri ini.
Dengan seluruh daya yang kupunya ingin kubisikkan, pergilah….
Biarkanlah istikharahku memutuskan dari beningnya hati, dari jernihnya pikiran tanpa kontaminasi bayanganmu, Terbanglah dari dahan kelopakku, melati yang rapuh, pergilah….
***
Pagi yang mendung, hitam menggelayut terarak awan mengitari atap langit, setelah ribuan titik hujan menjatuhi kota Istanbul fajar tadi, masih menyisakan gerimisnya. Sebentar lagi bus yang akan mengantarkan 20 orang siswa peserta summer course ke bandara untuk kembali ke tanah air datang, telah ku kemas barang-barang hasil buruan kemarin sore di sekitar bhosforus dan berbagai souvir yang ku kumpulkan sejak menginjakkan kaki di negeri ini.
Entah kenapa, ada rasa sedih enggan pergi terselip di antara rindu untuk pulang ke tanah air. Negeri ini telah mencuri hatiku sejak beberapa tahun lalu, bangunan bangunannya yang rupawan, saksi peradaban Islam yang pernah ada. Belum lagi nafas Islam yang mulai berdenyut kembali di negeri ini setelah puluhan tahun direnggut paksa oleh pemimpin biadab itu, sangat memberikan harapan besar untuk kemudian hari bisa melihat negeri ini seutuhnya kembali ke pangkuan Islam.
“May, bisnya sudah datang, kita menunggu di depan”, setengah tersentak mendengarnya, ku periksa ulang barang bawaan, khawatir ada yang tertinggal dan segera menyeret koper keluar, mengikuti langkah teman satu persatu menaiki tangga bus yang akan mengantarkan kami.
Roda bus mulai melaju, membawa mata terakhir kali menikmati rona indah setiap sudut kota Istanbul, dering bunyi nada pesan membuyarkan lamunanku, “may, hari ini pulang kan, kita akan jemput kamu di bandara, dan satu informasi lagi, ka Fadli yang CV nya udah kamu terima sebelum berangkat ke Turki, berniat nazhar hari ahad pekan ini, bisa kan?, dia alumni Gontor, Insya Allah baik untukmu, semoga perjalanannya lancar, sampai jumpa di bandara ^^.”. Hampir saja lupa, dua bulan lalu seminggu sebelum Qatar airlines mendaratkanku di Ataturk international airport, sebuah CV milik seorang ikhwan yang kemudian kubaca namanya Fadly Ramadhan kuterima dari murrabiku
***
15 April 2012
“May sudah senja, ayu kita pulang!
Ku menoleh ke samping kanan, “bentar ya bi, anak kita ingin merasakan atmosfir di tepian bhosforus”. Ka Fadly hanya tersenyum, sembari mengelus lembut ke arah perutku yang membuncit, sambil berbisik “Semoga titisan darah jihad Muhammad Al Fatih, sang penakluk Konstantinopel, akan mengalir dalam darahnya. Agar kelak dia pun menjadi pembela Islam“.
Sisa-sisa cahaya matahari memantul indah dalam riak gelombang bhosforus, hembusan angin mengalun teduh mengiringi langkah kaki, kugenggam jemarimu, merasakan hangat cinta yang tak henti kau taburi di setiap lahan jiwa, sejak dua tahun lalu saat kuputuskan untuk menerimamu. Terlebih setelah kutemanimu menimba ilmu di negeri ini.
PilihanMu tiada keliru Ya Alloh, satu keyakinan yang memantapkanku saat itu, ‚‘‘jika kita bersabar dalam takwa, Engkau pasti akan berikan jalan”. Kekhawatiran akan rasa yang masih bergetar pada sosok masa lalu saat kuputuskan untuk menikah dengannya, sungguh tiada terbukti, getar itu menghilang berganti denyut nafas cinta suamiku. Keteduhan imannya, hangat surya kasihnya, telah benar-benar menghapus bersih sisa rasa itu.
Pernikahanku denganmu adalah jalan yang Allah beri, jawaban bait-bait doa yang kutitip di setiap munajat, “ya Allah, belum sanggup benar-benar kuhapus sebagian sisa masa dahulu, getarannya terus gemerisik, mengganggu lembut aliran hidayahMu, Sungguh menggelisahkan. Berilah jalan keluar atas kelemahan jiwa ini, ketaksempurnaan iman ini, padaMulah kugantungkan semua asa, aku yakini bila kubersabar dalam taqwa, Kau pasti berikan jalan“.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/06/20893/dan-getar-itupun-pergi/#ixzz1xi3PrvOE
Sirami bunga kita dengan cinta
"Awal bulan depan, genap satu tahun pernikahan kita. Sementara bunga kecil di perutmu sudah mulai mendesak-desak ingin keluar, hmm... tak terasa sebentar lagi bunga itu akan keluar dan menghiasi harum rumah kecil ini. Dik, sungguh aku sudah tidak sabar untuk menciuminya sepuasku hingga tak satupun orang lain kuberikan kesempatan mencium dan memeluknya sebelum aku, ayahnya, bosan menciumnya.
Satu tahun empat bulan yang lalu, aku masih ingat saat datang ke rumahmu untuk berkenalan dengan keluargamu. Takkan pernah hilang dalam ingatanku, betapa kedatanganku yang ditemani beberapa sahabat untuk berkenalan malah berubah menjadi sebuah prosesi yang aku sendiri tidak siap melakukannya, yah... aku melamarmu dik....
Padahal, baru satu minggu sebelum itulah kita berkenalan di rumah salah seorang sahabatmu. Waktu itu, aku tak berani menatap wajahmu meski ingin sekali aku beranikan diri untuk mengangkat wajahku dan segera menatapmu. Tapi, entah magnet apa yang membuatku terus tertunduk. Kenakalanku selama ini ternyata tidak berarti apa-apa dihadapanmu, kurasakan sebuah gunung besar bertengger tepat di atas kepalaku dan membuatku terus tertunduk.
Dik, aku juga masih ingat dua hari setelah pernikahan kita, kamu masih tidak mau membuka jilbab didepanku meski aku sudah sah sebagai suamimu. Tidurpun, kita masih berpisah, kamu diatas kasur empuk yang aku belikan beberapa hari sebelum pernikahan, sementara aku harus kedinginan tidur dilantai beralaskan selimut.
Hmm, aku masih sering tersenyum sendirian kala mengingat kata-kataku untuk merayumu agar mau membuka jilbab. "Abang cuma ingin tahu, istri abang nih ada telinganya nggak sih". Kata-kata lembutku pada malam ketiga itu langsung disambar dengan pelototan mata indahmu. "Teruslah dik, mata melotot adik takkan pernah membuat abang takut atau menyerah, malaaah, adik makin terlihat cantik, makin jelas indahnya mata adik".
Setelah kata-kata itu meluncur dari mulut jahilku, bertubi-tubi pukulan sayang mendarat di tubuh dan kepalaku karena adik menganggap aku meledekmu. Tapi waktu itu, aku justru merasakan kehangatan pada setiap sentuhan tanganmu yang mengalir bak air di pegunungan. Karena aku yakin, dibalik pukulan-pukulan kecil itu, deras kurasakan cintamu seiring hujan yang turun sejak selepas maghrib.
Indah bunga seroja di taman mungkin takkan pernah bisa mengungkapkan eloknya cinta kita, cinta yang didasari atas kecintaan kepada Allah. Allah-lah yang menciptakan hati, jiwa dan ragamu begitu rupa sehingga aku mencintaimu. Aku pun berharap, atas dasar cinta Allah pulalah adik mencintaiku. Karena hanya dengan cinta karena Allah, cinta ini akan terus berbunga dan mewangi selamanya.
Cinta hakiki adalah cinta kepada zat yang menciptakan cinta itu sendiri, begitu seorang bijak berkata. Cinta tidak dirasa tanpa pengorbanan, kasih sayang bukan sekedar untaian kata-kata indah, dan kerinduan yang terus takkan pernah terwujud jika hanya sebatas pemanis bibir, tambah sang bijak.
Langit akan selamanya cerah, bila kita suburkan cinta ini. Mentari takkan pernah bosan bersinar selama kasih antara kita tetap terpatri dan rembulan pun tetap tersenyum, selama kita isi hari-hari dengan segala keceriaan yang jujur.
Tak terasa, malam semakin larut dik. Baru saja kudengar dentang jam berbunyi duabelas kali. Sementara tangan ini masih asik dengan pena dan secarik kertas putih. Kan kutulis semua rasa bathinku malam ini, semua keindahan, kehangatan, dan hidup dibawah naungan cinta bersamamu karena Allah. Tapi, maafkan aku dik, karena aku juga akan mengkhabarimu hal yang tidak pernah kuceritakan kepadamu sebelumnya.
Kau sandarkan kepalamu di dadaku, lelap sudah malam menghantarmu tidur. Tapi, ah... bunga kecil kita ternyata belum tidur dik... sesekali kurasakan sentuhan kakinya dari dalam perutmu. Rupanya bunga kecil itu sudah mengenaliku sebagai ayahnya, kurasakan berkali-kali diberbagai kesempatan berdampingan denganmu, tangan-tangan kecilnya berupaya menggapai dan menyentuhku seakan memintaku untuk segera menggendongnya.
Malam ini, ada tangis dihatiku yang tidak mungkin aku curahkan padamu. Karena aku tahu, kaupun sudah cukup sering menahan tangismu agar tidak terlihat olehku. Jadi, mana mungkin aku menambahinya dengan air mataku yang mulai menggenang di bibir kelopak mataku ini.
Sebagai suami, aku merasa belum mampu membahagiakanmu dik. Nafkah yang kuberikan kepadamu setiap bulan, tidak pernah cukup bahkan untuk dua minggu pun. Sehingga untuk keperluan dua minggu berikutnya, aku harus meminjamnya dari teman-temanku tanpa sepengetahuanmu dan aku hanya membisikimu, "rizqumminallaah".
Setahun kita menikah, tak sehelaipun pakaian kubelikan untukmu. Bahkan aku sering menangis, saat mengajakmu pergi, adik harus bingung mencari-cari sandal yang layak dipakai. Tak pernah aku mengajakmu untuk berjalan-jalan, karena aku selalu disibukkan dengan segala urusanku, tak peduli hari libur. Aku selalu berharap adik tampil cantik dan segar sepanjang hari, tapi tak pernah kubelikan adik alat-alat kecantikan. Dan yang terakhir, aku tak kuasa mengingatnya dik, meski berat kita harus melalui saat-saat kita makan dengan makanan seadanya, bahkan tidak jarang kita berpuasa. Waktu itu adik bilang, "Biarlah bang, adik lebih rela makan sedikit dan seadanya daripada kita harus berhutang, karena hidup tidak akan tenteram dan selalu merasa dikejar-kejar".
Sebentar lagi, bunga kecil itu akan hadir dik. Akankah aku, ayahnya, membiarkannya tumbuh dengan apa adanya seperti yang aku lakukan terhadapmu dik. Bersyukurlah ia karena mempunyai ibu yang sholehah dan selalu menjaga kedekatannya dengan Allah. Karena, walau gizi yang diberikannya kelak tidak sebanyak kebanyakan anak-anak lainnya, tetapi ibunya akan mengalirkan gizi takwa dihatinya, mengenalkan Allah sebagai Rabb-nya, Muhammad sebagai tauladannya dan mengajarkan Al Qur'an sebagai petunjuk jalannya kelak. Ibunya akan mengajarkan kebenaran kepadanya sehingga mampu membedakan mana hak dan mana bathil,
Dik, jika ia lahir nanti, sirami hatinya dengan dzikir, suburkan jiwanya dengan lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an, hangatkan tubuhnya dengan keteguhan menjalankan dinnya, baguskan pula hatinya dengan mengajarkannya bagaimana mencintai Allah dan Rasul-Nya, ajarkan juga ia berbuat baik kepada orangtua dan orang lain, bimbinglah ia dengan ilmu yang kau punya, sehingga dengan ilmu itu ia tidak menjadi orang yang tertindas. Jadikan jujur sebagai pengharum mulutnya serta kata-kata yang benar, baik, lembut dan mulia sebagai penghias bibirnya. Sematkan kesabaran dalam setiap langkahnya, taburi pula benih-benih cinta di dadanya agar ia mampu mengukir cinta dan kasih sayang dalam setiap perilakunya, dan yang terakhir kenakan takwa sebagai pakaiannya setiap hari.
Jika demikian, insya Allah harapan dan do'a kita untuk tetap bersama sampai di surga kelak akan lebih mudah kita gapai. Aku berharap, engkau membaca surat yang kuselipkan di bawah bantalmu malam ini. Dan jika kau telah membacanya esok pagi, jangan katakan apapun kecuali ciuman hangat di tanganku. Karena dengan begitu, aku tahu kau telah membacanya." (bayu)
Senin, 28 Mei 2012
Sendiri
Tersadar bahwa kini aku berjuang sendiri...merubah sesuatu yang sulit tuk dirubah. Keinginan untuk melakukan yang terbaik akan pupus sudah. bukannya aku ingin menyerah, insyAllah aku gak akan menyerah dan tetap berjuang. Tapi dengan jalan yang berbeda dengan kalian.
Maafkan atas kesalahanku dulu, kini aku ingin maju bersama kalian, karna aku ingin kembali dalam barisan dakwah itu. menikmati perjuangan di jalan dakwah yang pernah kita perjuangkan bersama. Kini semua t'lah berbeda, tidak hanya aku yang mengalami kefuturan, saudara perjuangan kita juga mengalami kefuturan, semakin hari banyak saudara kita yang berguguran.
Keluar dari barisan itu, barisan yang saling menguatkan dan penuh dengan iman yang terasa...
Tapi,,,kini, ketika aku ingin kembali, kenapa begitu sulit bagi kalian tuk menerima, bahkan membantu aku,,
kenapa kalian tidak mengingatkan aku? Dimana kalian saat aku membutuhkan kalian? kalian membiarkan aku terjerumus dalam kekufuran...
Maafkan aku kawan, aku tak menyalahkan kalian, karna semua ini salahku, jika aku tak bisa kembali bersama dengan kalian, aku akan tetap berada dalam jalan dakwah ini, dengan barisan yang berbeda. tanganku akan selalu terulur bagi mereka yang ingin kembali
Selasa, 01 Mei 2012
Terima Kasih Telah Menjadi Bidadari yang Cantik dan Shalihah untuk Ayah
dakwatuna.com - Di pagi hari menjelang siang, terlihat Pak Agus sedang mematut-matut diri di depan cermin, setelah dirasa cukup rapi dan keren, Pak Agus yang biasa di panggil ayah oleh istrinya langsung menyemprotkan parfum ke bajunya. Setelah itu Pak Agus pamit kepada istrinya untuk pergi……
“Bu… Ayah pergi dulu ya, mau ada meeting nih.”
Bu Agus yang sedang sibuk di dapur lalu menghampiri suaminya. “Memang hari Minggu gini kantor ayah ngga libur ya? Kenapa ngga besok aja meetingnya yah, kan hari Minggu waktunya berkumpul bersama keluarga.”
Dengan wajah menahan kesal lalu Pak Agus menjawab, “Ayah ada bisnis di luar kantor Bu, jadi ngga meeting di kantor, lumayan untuk uang tambahan Bu… Udahlah ngga usah banyak tanya, nanti sore juga ayah pulang kok.”
Seraya mencium tangan si ayah, Bu Agus berkata, “Ya udah, hati-hati di jalan ya Ayah, Semoga Allah selalu melindungi Ayah.”
Setelah sampai di teras, Pak Agus melihat ban mobilnya kempes, lalu dengan wajah kesal dia berkata, “Waduuuh ada-ada aja nih, orang mau berangkat ban mobil pake acara kempes lagi… Huuuhh.”
Lalu Pak Agus kembali ke dalam untuk mengganti pakaiannya yang rapi dengan kaos. Bu Agus yang tadi berada di samping Pak Agus lalu segera mengambil kunci mobil dan membuka bagasi mobil untuk mengeluarkan dongkrak, ban mobil cadangan dan peralatan lainnya. Dengan cekatan Bu Agus mendongkrak dan mengganti ban mobil yang kempes dengan ban cadangan. Sewaktu muda dulu Bu Agus adalah sosok gadis yang mandiri, pergi kuliah dan kerja Bu Agus selalu membawa mobil sendiri, dan dia juga belajar untuk mengganti ban mobil sendiri apabila sewaktu waktu ban mobilnya kempes di jalanan,
Saat Bu Agus sedang mengganti ban, Pak Agus keluar rumah bermaksud untuk mengganti ban mobilnya, tetapi ternyata dilihatnya istrinya sedang mengganti ban mobil tersebut, lalu berkata, ”Loh, kenapa Ibu yang ganti ban mobilnya? Kan tadi ayah masuk ke dalam mau ganti baju dulu lalu setelah itu mau ganti ban mobil…”
Lalu Bu Agus dengan tersenyum berkata, “Gapapa ayah, biar ibu yang ngerjain, toh Ibu udah biasa kok, udah ga asing lagi urusan pekerjaan seperti ini hehehehe, ibu takut ayah terlambat pergi ke tempat meeting…”
Tak lama kemudian ban mobil yang baru sudah terpasang, lalu Bu Agus ke dalam untuk mencuci tangan.
“Kriiingg…. kriiiiingg….” bunyi telepon rumah berdering, dengan bergegas Bu Agus mengangkat telepon rumahnya. Terdengar suara seorang wanita yang menanyakan Pak Agus…
“Hallo selamat siang, bisa bicara dengan Pak Agus?”
Dengan lembut dan sopan Bu Agus menjawab, “Assalamu’alaikum wrwb, selamat siang, maaf ini dari siapa ya?”
Wanita di seberang sana menjawab dengan nada mendesak… “Saya temennya Pak Agus, tolong cepet dong saya mau bicara sama dia.”
Lalu dengan lembut Bu Agus menjawab… “Iya…. Sebentar ya mba, Pak Agusnya saya panggilkan dulu…”
Lalu Bu Agus menghampiri suaminya di kamar yang sedang mengganti pakaian….. “Ayah, ada telepon untuk ayah…”
Lalu Pak Agus menjawab… “dari siapa Bu?”
“Katanya dari temen ayah” jawab Bu Agus.
Segera Pak Agus mengangkat telepon tersebut. Baru saja pak Agus mengucapkan salam, terdengar suara wanita di telepon marah-marah kepada Pak Agus, lalu Pak Agus menjawab…. “Iya maaf…. sabar ya, kamu tunggu aja di sana, sebab tadi aku ganti ban mobil dulu karena ban mobil ku kempes dan aku ga denger suara HP ku bunyi…”
Lalu telepon segera ditutup. Dengan terburu buru tanpa pamit lagi Pak Agus segera keluar rumah menuju mobilnya. Setelah di dalam mobil, saat menstarter mobilnya, ternyata mesin mobil tidak mau hidup, berulang kali dicoba distarter tetap mesin mobil tidak mau hidup. Lalu Pak Agus keluar untuk mengecek aki mobilnya, ternyata aki nya sudah soak. Dengan kesal Pak Agus menutup pintu mobil dengan membantingnya. Bu Agus kaget dan beristighfar mendengar suara bantingan pintu mobil tersebut, lalu bertanya pada suaminya…. “Kenapa mobilnya ayah, aki nya soak ya?”
Dengan wajah kesal Pak Agus menjawab… “Iya.”
Lalu Bu Agus berkata, “Waduuh gimana dong yah, nanti ayah terlambat meeting doong.”
Dengan wajah yang masih kesal lalu Pak Agus menjawab…. “Ya udah, hari ini ayah ga jadi meeting deh.”
Lalu Pak Agus masuk ke dalam seraya mengambil HP dan menulis sms untuk seseorang.
Terdengar suara azan Zhuhur dari masjid memanggil untuk segera melakukan shalat Zhuhur. Bu Agus mengajak suaminya untuk shalat berjamaah, tapi dengan wajah muram suaminya berkata…. “Ibu duluan aja deh shalatnya, nanti ayah nyusul sebentar lagi, mau istirahat dulu”, seraya mengambil Koran dan mencoba untuk membaca Koran di teras rumahnya.
Sebelum mengambil wudhu Bu Agus menyiapkan segelas teh manis dan sepiring pisang goreng, lalu diletakkan di meja dekat suaminya seraya berkata…. “Ini… ibu buatkan teh manis dan pisang goreng kesukaan ayah, nanti kalo udah selesai istirahatnya tolong segera shalat ya ayah…”
“Iya, terima kasih Bu…” jawab suaminya.
Setelah wudhu, Bu Agus melakukan shalat Zhuhur di dalam kamar. Di dalam shalatnya dia berdoa….
“Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosa ku dan dosa-dosa suamiku, jadikanlah keluargaku menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah, limpahkanlah taufik dan hidayahMU bagi kami, lindungilah kami dari godaan syaitan dan gangguan orang-orang yang zhalim, jagalah hati dan iman kami agar selalu terpaut padaMU ya Allah. Lindungilah suamiku di manapun dia berada, dan berilah rasa cinta kasih di antara kami berdua seperti cinta kasih antara Adam dan Hawa, berikanlah keluarga kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan jauhkanlah kami dari siksa kubur dan siksa api neraka Ya Allah yang Maha Mengabulkan doa, terima dan kabulkanlah doa hamba, aamiin aamiin Yaa Rabbal Alamiin…”
Sabda Rasulullah SAW: “Doa itu adalah ibadah.” Kemudian beliau membaca firman Allah ta’ala (yang artinya): “Dan Tuhanmu berfirman: “berdoalah kepadaKu, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina”
Di teras, Pak Agus yang terlihat sedang membaca Koran, sebenarnya pikirannya tidak tertuju pada Koran yang dipegangnya. Terbayang kembali olehnya saat melihat istrinya yang sedang mengganti ban mobilnya, sikap manis serta sopan istrinya saat menerima telepon dari teman wanitanya dan rasa khawatir istrinya karena takut suaminya terlambat meeting, serta sikap manis dan hormat istrinya kepadanya selama ini. Dibandingkan dengan teman wanitanya yang marah-marah hanya karena keterlambatannya dan bahkan kegagalannya untuk datang ke tempat pertemuan mereka. Terselip rasa bersalah di hatinya karena telah membohongi dan menzhalimi istrinya. Telah sebulan ini ia telah menjalin sebuah hubungan khusus dengan seorang wanita yang dianggapnya pintar, cantik dan seksi. Sebenarnya tidak ada keluhan sama sekali atau kekurangan istrinya di matanya, namun entah kenapa dia tertarik dengan wanita teman sekantornya yang mencoba menarik perhatiannya dan menggodanya….. “Astaghfirullahaladziim….”
Mungkin memang Allah tidak mengizinkan perselingkuhan yang akan dilakukannya, terbayang kembali saat ia akan pergi, ban mobilnya kempes, lalu dengan ketulusan dan keikhlasan istrinya ban mobil tersebut diganti oleh istrinya, kemudian aki nya soak. “Hmmmm……berarti Allah benar-benar tidak meridhai dengan apa yang akan aku lakukan, benar-benar tidak meridhai kebohongan dan kezhalimanku kepada istriku….”
“Masya Allah….. Ya Allah ampuni lah dosa-dosa hambaMU ini yang telah menzhalimi istriku yang baik, cantik dan shalihah, sungguh hamba menyesal ya Allah.” Dalam hati dia berjanji untuk menghentikan perselingkuhannya saat ini juga dan akan meminta maaf pada istrinya. Lalu dengan bergegas Pak Agus ke dalam untuk mengambil wudhu dan melakukan shalat Zhuhur. Di dalam shalatnya dia berdoa … “Ya Allah ampunilah atas semua dosa-dosa dan kesalahanku, terima kasih telah Engkau kirimkan padaku seorang bidadari cantik dari surga yang telah mendampingiku selama ini, ampuni hamba yang telah menzhaliminya, kuatkan lah hati dan imanku ya Allah, agar hamba tidak tergoda oleh bujukan syaitan dan orang-orang yang zhalim dan berilah rasa cinta kasih antara aku dan istriku seperti cinta kasih antara Adam dan Hawa, berikanlah keluarga kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan jauhkanlah kami dari siksa kubur dan siksa api neraka, aamiin Yaa Rabbal Alamiin..”
Doa adalah sebagai pelindung dan senjata kepada setiap orang mukmin dari godaan dan hasutan syaitan serta dari kejahatan manusia. Lalu setelah shalat, dengan penuh kasih sayang Pak Agus mencium kening istrinya sambil berkata…. “Maafkan Ayah ya Bu, dan terima kasih telah menjadi bidadari yang cantik dan shalihah untuk ayah selama ini.”
Dengan penuh kebingungan Bu Agus menjawab, “Iya Ayah, terima kasih juga telah menjadi suami dan imam yang baik dan shalih selama ini.”
Pak Agus dan Bu Agus adalah type keluarga yang harmonis, beriman kepada Allah, berkecukupan akan harta dan memiliki sepasang anak yang tampan dan cantik. Namun sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Ankabuut ayat 2 berikut ini:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?”
Dan di dalam Surat Al-Kahfi ayat 7 yang artinya sebagai berikut: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagi manusia, agar kamu menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya “.
Dalam cerita ini Pak Agus mendapat ujian dari Allah atas komitmen dan kesetiaannya kepada Allah dan istrinya
Di dalam Surat Al Baqarah ayat 153 berikut ini: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Bu Agus dengan kesabaran dan keimanannya kepada Allah selalu bersikap baik dan sabar kepada suaminya dan selalu berdoa kepada Allah untuk kebaikan dirinya dan keluarganya di dunia dan akhirat. Berkat doa dan kesabaran Bu Agus, akhirnya Pak Agus diberi kesadaran oleh Allah atas kesalahan yang telah diperbuatnya selama ini.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/05/20179/terima-kasih-telah-menjadi-bidadari-yang-cantik-dan-shalihah-untuk-ayah/#ixzz1tc3JeApH
Langganan:
Komentar (Atom)